Sejarah Dan Torehan Noah BandRaksasa industri musik Indonesia terbangun dari tidur panjangnya. Tidur yang disertai mimpi indah sekaligus mimpi buruk. Kejayaan penjualan album Bintang di Surga (2004) yang terpatok pada angka tiga juta kopi dan sindrom megabintang menyuguhkan kesempurnaan mimpi. Berbekal dua album, Peterpan berhasil menjadi simbol kesuksesan dan memberikan pola baru bagi band arus utama di eranya. Namun, mimpi buruk konflik internal, album ketiga yang bertema suram, dan skandal yang menimpa Ariel benar-benar menjadi titik nadir. Peterpan hanya tinggal sebuah nama, sebuah cerita. Kini, mereka kembali ke dunia sadar dengan nama dan semangat baru.
Kisah Lain Tentang Noah
Selimut yang nyaman. Pemberi ketenangan. Panjang umur. Begitulah gambaran dari nama baru Peterpan: Noah. Penggunaan huruf kapital romawi bertuliskan “NOAH” dan aksen simbol bulu berwarna merah yang menyerupai tangkai pena mengganti garis vertikal pada huruf “A” menjadi pilihan logo Noah. Bukan rahasia bila nama baru ini merupakan pertanda harapan baru bagi Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Bagi para personel, nama ini dipilih karena menyiratkan makna kesederhanaan dan penggugah semangat untuk berkarya.
Dirilisnya album Suara Lainnya dan buku berjudul Kisah Lainnya, pada bulan Mei dan Juli 2012, menjadi pondasi kebangkitan Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David. Album instrumental yang melibatkan kolaborasi musisi dari berbagai macam latar belakang memperkaya pundi musikalitas mereka. Pun dengan kisah-kisah para personel yang sarat emosi berhasil diulas secara lugas di buku tersebut. Kisah yang diulas lebih banyak berisi penantian dan kesaksian. Semua personel mencurahkan energinya untuk melewati masa transisi. Masa yang tidak mudah dalam proses pendewasaan sebuah grup musik.
Kedua karya tersebut adalah buah dari pemikiran yang tak sempat tersampaikan selama dua tahun terakhir. Hasilnya melebihi ekspektasi, karena kekuatan dalam pengayaan musikal dan inspirasi nampak nyata dalam kombinasi album dan buku tersebut. Peran David sebagai keyboardis layak diapresiasi. Sentuhannya sangat bernyawa, bahkan menjadi penuntun utama di sejumlah lagu pada album Suara Lainnya. Hal ini membuktikan bahwa banyak hal menarik yang mereka hasilkan di tengah keterbatasan.
Konser Born To Make History
Tanggal 16 September 2012 menjadi hari terpilih. Pada tanggal tersebut, nama Noah resmi digunakan pada album terbaru berjudul Seperti Seharusnya. Gerai ayam goreng cepat saji, KFC, terpilih sebagai outlet penjualan album Noah. Strategi pemasaran ini ditempuh untuk menjajal konsep penjualan album yang efektif dan diminati publik pencinta musik Indonesia. Terbukti, beberapa nama besar telah menjual ratusan ribu kopi album melalui metode tersebut.
Kenangan manis pemecahan rekor konser maraton di enam provinsi dalam tempo 24 jam pada tanggal 18 Juli 2004 menjadi inspirasi Noah untuk menyusun rencana besar. Kali ini, lima kota dari dua benua akan menjadi lokasi pertunjukan tanpa jeda selama 24 jam. Melbourne terpilih sebagai kota pertama penyelenggaraan konser. Disusul oleh Hongkong, Kuala Lumpur, dan Singapura sebagai empat kota berikutnya. Jakarta menjadi kota kelima yang menjadi puncak perayaan pemecahan rekor MURI tersebut.
Sejak tanggal 16 September dini hari, euforia terpublikasi secara utuh di berbagai media dan jejaring sosial. Partner acara (SCTV, Berlian Entertainment, dan Musica Studios) dan akun resmi Noah memberitakan kegiatan pemecahan rekor ini secara utuh. Kekhawatiran akan minimnya penonton tidak terbukti. Antusiasme Sahabat Noah di empat kota penyelenggara sebelum Jakarta tergolong tinggi. Kerinduan terhadap sesuatu yang saling dinanti antara Noah dan penggemarnya menjadi sebuah simbiosis mutualisme. Keduanya saling merindukan. Tak heran jika banyak kejutan dan keriaan yang terjadi selama perjalanan Noah menggelar konser di empat kota tersebut. Selepas Singapura, Noah bersiap mengukir sejarah baru di Skenoo Exhibition Hall, Gandaria City, Jakarta.
Noah-Born To Make History
Kharisma Ariel begitu membumi. Setidaknya kaum hawa yang menyaksikan konser Born to Make History sepakat untuk mengiyakan kenyataan ini. “Semua demi Ariel, demi Noah”, ujar salah seorang Sahabat Noah perempuan asal Bandung yang rela datang ke Jakarta demi menyaksikan band pujaannya. Sejak berdesakan dalam panjang antrian verifikasi tiket, hingga konser dibuka oleh Geisha pada pukul 22.30 WIB, nama sang vokalis selalu dielu-elukan.
Geisha membawakan 13 lagu berdurasi 50 menit. Penampilan Momo, vokalis Geisha menjadi daya tarik tersendiri. Membawakan lagu bertema cinta, tidak membuat Geisha tampil seadanya. Improvisasi di beberapa bagian lagu dan kejelian memanfaatkan koor massal membuat penantian penampilan Noah terasa singkat.
Geisha, band Pembuka Konser Born To Make History
Noah membawakan lagu
Ariel mengenakan kaos putih bertuliskan
Panggung yang didesain oleh Oleg Sanchabakhtiar sangat efisien untuk pergerakan personel. Bagian belakang diisi oleh Reza (drum) dan David (keyboard) dengan latar belakang layar plasma yang menampilkan animasi grafis bergerak bertema album Seperti Seharusnya. Bagian sayap kanan dan kiri panggung diisi oleh Uki, Lukman, dan Ihsan (gitar dan bass). Sisa panggung tengah yang lapang dan memanfaatkan panggung hidrolik, serta lidah panggung berbentuk pena bulu lambang Noah menjadi wilayah yang didominasi Ariel.
Set Panggung Noah
Salam perpisahan dengan membungkukkan badan ke arah penonton menutup nostalgia malam bersejarah. Noah membuktikan langkah besar dimulai dari mimpi besar. Maka tak dapat disangkal, kaos bertuliskan “6.903 miles” yang dikenakan Ariel menjadi pertanda bahwa jarak yang ditempuh untuk menghasilkan sejarah hanyalah soal angka. Pembuktian hanya dilakukan oleh yang terpilih. Dan dunia merestui Noah untuk menggenapi takdirnya sendiri.
Setlist Noah- Born to Make History
Akhir Yang Indah
LOVE YOU Sahabat :)



0 komentar:
Posting Komentar